TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Dominasi destinasi bahari dalam peta pariwisata Kabupaten Berau perlahan mulai diimbangi oleh gerakan perlindungan keanekaragaman hayati di wilayah pedalaman.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah, menyoroti aksi heroik kelompok pemuda di Kampung Tubaan, Kecamatan Tabalar, yang secara swadaya membendung aksi penjarahan masif terhadap spesies anggrek liar dari habitat aslinya.
“Kawasan hutan Tubaan sejatinya menyimpan kekayaan flora endemik luar biasa yang kian terancam punah akibat maraknya perburuan tak berizin demi memenuhi tren pasar tanaman hias,” ungkapnya dalam perbincangan beberapa waktu lalu via seluler.
Di sisi lain tambah Samsiah, perhatian publik dan pengembangan pariwisata daerah selama ini cenderung bertumpu pada Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di sektor pesisir, mulai dari gugusan Pulau Derawan hingga kawasan Biduk-Biduk, sehingga potensi ekologi daratan kerap terabaikan.
“Berangkat dari keprihatinan atas maraknya pembabatan habitat dan ketimpangan perhatian tersebut, Muhammad Najib yang dikenal luas di media sosial sebagai greeneverplants bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bumi Ruaban mengambil tindakan nyata,” ujar Samsiah lagi.
“Mereka mengevakuasi serta merelokasi vegetasi yang terdampak deforestasi ke zona konservasi mandiri di lereng Bukit Ruaban, yang kini berhasil menyelamatkan lebih dari 250 jenis vegetasi epifit, termasuk keanekaragaman langka Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata),” tambahnya.
Pihak Disbudpar Berau memberikan apresiasi tinggi terhadap tingginya kepedulian ekologis generasi muda setempat yang melancarkan aksi penyelamatan ini secara konsisten, bahkan sebelum ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas.
Guna memperkuat daya jangkau gerakan tersebut lanjut Samsiah, dinas terkait mulai mengintegrasikan program konservasi ini ke dalam skema ekowisata bertajuk Orchid Guardian, yang melibatkan wisatawan untuk mengadopsi serta menanam kembali bibit anggrek di sepanjang lintasan penjelajahan alam.
“Selama ini fokus perhatian kita memang banyak tertuju pada destinasi pesisir KSPN. Namun hadirnya inisiatif di Tubaan ini membuktikan bahwa anak-anak muda di pedalaman memiliki kesadaran ekologis yang sangat tinggi untuk membentengi kekayaan alamnya,” tutur Samsiah.
Ia menegaskan, keberanian serta komitmen swadaya yang ditunjukkan Pokdarwis Bumi Ruaban patut menjadi teladan gerakan pelestarian lingkungan di tingkat daerah. Samsiah berharap aksi nyata dalam menjaga keanekaragaman hayati daratan ini terus mendapat dukungan luas dari berbagai pihak agar benteng konservasi di pedalaman Berau tetap lestari. (NH/Bintang)
