Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / DPRD Berau Soroti Arah Pembangunan, Tekankan Warisan Positif untuk Generasi Muda

DPRD Berau Soroti Arah Pembangunan, Tekankan Warisan Positif untuk Generasi Muda

TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau menyoroti arah pembangunan daerah yang dinilai belum sepenuhnya meninggalkan warisan positif bagi generasi muda. Sorotan tersebut disampaikan Sekretaris Komisi I lembaga legeslatif Kota Sanggam, Frans Lewi, dalam wawancara beberapa waktu lalu di Kantor DPRD Jl Gatot Subroto, Tanjung Redeb.

Frans Lewi menilai, hingga saat ini masih banyak program pembangunan yang bersifat sementara dan tidak berkelanjutan, sehingga manfaat jangka panjangnya tidak benar-benar dirasakan oleh masyarakat, khususnya anak cucu di masa mendatang. Ia menyinggung keterbatasan anggaran maupun kebijakan efisiensi yang kerap dijadikan alasan, namun menurutnya hal tersebut tidak seharusnya menghilangkan orientasi nilai dalam pembangunan.

“Kenapa kita tidak berpikir untuk meninggalkan sesuatu yang baik dan bisa ditiru oleh generasi berikutnya. Misalnya, membangun rumah ibadah sampai benar-benar tuntas dan layak, sehingga bisa dinikmati anak cucu kita,” ujar Frans Lewi.

Ia menyoroti kondisi di sejumlah wilayah, terutama daerah tambang, yang justru meninggalkan persoalan lingkungan berupa kubangan bekas galian. Menurutnya, warisan semacam itu bukan hanya tidak bermanfaat, tetapi juga menyisakan cerita buruk bagi generasi mendatang.

Selain Anggaran, Koordinasi Antar OPD Solusi Tak Meratanya Infrastruktur Kampung

“Banyak peninggalan yang justru tidak baik. Kubangan-kubangan bekas tambang itu hanya jadi cerita yang tidak mendidik. Ini harus menjadi bahan refleksi bersama,” tegasnya.

Sebaliknya, Frans Lewi mendorong agar Pemerintah daerah lebih memprioritaskan pembangunan fasilitas sosial dan keagamaan, seperti masjid dan gereja, demi menciptakan kenyamanan dalam menjalankan ibadah. Ia bahkan membagikan pengalaman pribadinya di wilayah pesisir, di mana kapasitas rumah ibadah yang terbatas membuat sebagian jemaat harus beribadah di luar bangunan.

“Di gereja kami, kalau ada Pastor datang, sebagian jemaat terpaksa berdiri di luar. Itu sangat tidak nyaman, dan saya sendiri merasakannya. Dari awal sampai selesai harus berdiri,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan kurangnya perhatian serius terhadap pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Ia menegaskan, rumah ibadah seharusnya menjadi ruang yang layak dan nyaman bagi semua umat, tanpa terkecuali.

Frans Lewi menyatakan bahwa persoalan ini secara konsisten ia sampaikan dalam berbagai forum, termasuk Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), agar menjadi perhatian Pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pembangunan ke depan.

Tidak Kunjung Usai, Masalah Batas Antar Kampung Harus Segera Dituntaskan

“Kita ingin pembangunan ini benar-benar meninggalkan kesan yang baik, bukan hanya selesai di atas kertas, tapi nyata dirasakan manfaatnya oleh generasi sekarang dan yang akan datang,” pungkasnya. (Advetorial/NH/Bin)