TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Ruang kelas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) seharusnya menjadi wadah menimba ilmu dengan nyaman. Namun berbeda dengan salah satu sekolah di Kampung Maluang, Kecamatam Gunung Tabur. Di sisi samping dan belakang bangunan dikelilingi oleh tebing tinggi yang sewaktu waktu bisa longsor saat hujan deras.

Oleh sebab itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau mendorong agar Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk merancang sistem pengaman tebing yang permanen. Karena saat dirinya meninjau langsung kondisi sekolah, secara geografis memang sangat menghawatirkan.
“Masalahnya tidak segampang memotong atau meratakan sedikit bagian depan sekolah. Alat berat yang ada pun tidak akan mampu menangani struktur tanah di sana jika sampai longsor,” jelas Anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Rahman baru baru ini.
“Jadi kami harapkan, perencanaanya harus terintegrasi, bukan sekadar penanganan sementara. Salah satu opsi yang diusulkan adalah pembangunan turap atau dinding penahan tanah berbahan beton bertulang yang dipasang permanen di sepanjang tebing,“ tegas Rahman.
Menurutnya, kondisi tebing tinggi yang berada tepat di samping dan belakang area sekolah menjadi ancaman serius, terutama saat musim hujan. Struktur tanah yang labil berpotensi longsor dan membahayakan siswa yang beraktivitas di halaman sekolah.
“Jangan sampai jika sudah menjadi bencana, baru dianggarkan, terlambat. Harus dirancang sejak awal, karena kondisi geografisnya memang mendesak untuk segera ditangani,” imbuhnya.
Dirinya juga menyoroti bahwa halaman sekolah sebelumnya telah dilakukan pengecoran menggunakan APBD. Namun, jika tebing tidak ditangani secara komprehensif, maka potensi kerusakan akan terus berulang dan berisiko menghamburkan anggaran. Masalah lain yang juga harus diperjuangkan adalah pembangunan pagar sekolah. Saat ini, area sekolah terbuka tanpa pembatas yang memadai, baik di bagian depan maupun belakang.
“Dari sisi keamanan tentu sangat rawan, apalagi pada malam hari. Anak-anak juga bisa saja keluar masuk saat jam belajar karena tidak ada pagar. Isu ini tidak boleh dipandang sebagai proyek pembangunan biasa, melainkan sebagai upaya perlindungan terhadap keselamatan generasi muda,” katanya lagi.
“Ini juga menyangkut keselamatan anak-anak di kampung tersebut. Jangan sampai kita menunggu kejadian baru bergerak. Pencegahan jauh lebih penting,” pungkas Dewan yang juga merupakan Anggota Komisi yang membidangi Pembangunan di DPRD Berau tersebut. (Advetorial/NH)
