TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Pengelolaan makanan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Tanjung Redeb menjadi perhatian untuk memastikan konsumsi warga binaan diproses secara aman dan memenuhi standar kesehatan. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan keamanan pangan yang melibatkan warga binaan dan petugas Rutan.
Menurut penjelasan Kepala Rutan Kelas IIB Tanjung Redeb, Rian Permana, mengatakan memperbaiki proses pengolahan makanan, mulai dari kebersihan pekerja hingga kondisi dapur dan tata cara penanganan pangan tidak mudah. Karena itu berbagai kegiatan bisa meningkatkan hal tersebut berusaha dilakukan.
“Yang kami dorong adalah bagaimana makanan yang disiapkan di Rutan benar-benar dikelola dengan cara yang higienis dan memenuhi standar. Karena itu, pekerja dapur dan petugas perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai keamanan pangan,” ujar Rian saat ditemui di kantornya, Jl Murjani II, Tanjung Redeb, Rabu (30/9/2026).
Masih Rian, oleh sebab itu, pelatihan keamanan pangan yang terlaksana dengan menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Berau sangat diharapkan kedepan bisa digelar kembali. Peserta yang mengikuti pelatihan merupakan warga binaan yang bertugas sebagai tamping dapur serta petugas yang terlibat dalam pengelolaan makanan.
Karena melalui kegiatan seperti itu, kebersihan personal, sanitasi lingkungan kerja, penanganan bahan makanan serta proses memasak dan penyajian yang aman dilatihkan ke pesertanya.
Terkait keterlibatan warga binaan, menjadi bagian penting karena mereka merupakan tenaga yang secara langsung menjalankan aktivitas dapur setiap hari. Pengetahuan yang diberikan diharapkan dapat mengurangi risiko kesalahan dalam pengolahan makanan yang berpotensi memengaruhi kesehatan warga binaan lainnya.
Selain berdampak terhadap pelayanan makanan di dalam Rutan, pelatihan tersebut juga memberikan manfaat bagi peserta warga binaan. Sertifikat yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan dapat menjadi dokumen pendukung ketika mereka nantinya mencari pekerjaan setelah selesai menjalani masa pembinaan.
“Dari informasi yang kami terima, sertifikat pelatihan ini bisa menjadi salah satu bekal ketika mereka kembali ke masyarakat. Jadi, bukan hanya bermanfaat selama berada di Rutan, tetapi juga dapat mendukung mereka ketika mencari pekerjaan nantinya,” jelasnya.
Rian berharap keterampilan tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Warga binaan yang bekerja di dapur diminta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas sehari-hari, sementara petugas melakukan pengawasan agar standar pengolahan makanan tetap terjaga. (NH/Bintang)
