Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / Tekan Risiko Gangguan Tumbuh Kembang Balita, Pemberian Vitamin A dan Obat Cacing Digencarkan

Tekan Risiko Gangguan Tumbuh Kembang Balita, Pemberian Vitamin A dan Obat Cacing Digencarkan

TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Pemerintah Kabupaten Berau memperkuat upaya pencegahan gangguan tumbuh kembang anak melalui pencanangan pemberian Vitamin A dan obat cacing bagi bayi serta balita pada periode Agustus 2026. Kegiatan tersebut dibuka langsung Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, di Posyandu Melati, Jalan Durian III, Tanjung Redeb, Senin (10/8/2026).

Program tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap persoalan pemenuhan gizi anak yang masih membutuhkan keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat. Pada usia balita, kebutuhan nutrisi menjadi semakin penting karena fase tersebut merupakan masa ketika pertumbuhan tubuh, perkembangan otak, pembentukan daya tahan tubuh, hingga berbagai fungsi biologis anak berlangsung secara cepat.

Sri Juniarsih menilai pemberian Vitamin A tidak boleh dipandang sebatas kegiatan rutin di Posyandu. Menurutnya, intervensi tersebut merupakan salah satu langkah preventif untuk memastikan anak memperoleh kebutuhan zat gizi yang mendukung kesehatan sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi proses tumbuh kembang.

“Pemberian Vitamin A merupakan salah satu langkah yang harus kita pastikan diterima anak sesuai waktunya. Manfaatnya bukan hanya untuk menjaga kesehatan mata, tetapi juga berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh dan pertumbuhan anak,” ujar Sri Juniarsih.

Beliau menjelaskan, anak yang mengalami kekurangan Vitamin A dapat memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah sehingga lebih mudah terserang penyakit infeksi. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena gangguan kesehatan yang berulang pada usia dini dapat berdampak terhadap proses pertumbuhan apabila tidak ditangani secara tepat.

Dorong Berbagai Sektor Pembangunan di Biatan, Guna Berikan Manfaat Langsung Bagi Masyarakat

“Persoalan pemenuhan gizi inilah yang harus di maksimalkan guna pencegahan awal. Pemerintah daerah tidak ingin penanganan kesehatan anak baru dilakukan ketika masalah sudah muncul. Karena itu, pelayanan berbasis Posyandu dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk melakukan pencegahan sekaligus menemukan potensi persoalan kesehatan sedini mungkin,” kata Bupati.

Dalam kegiatan tersebut tambah Beliau, pemberian Vitamin A juga dilaksanakan bersamaan dengan pemberian obat cacing. Kedua intervensi tersebut diarahkan untuk mendukung kondisi kesehatan dan status gizi anak, terutama sebagai bagian dari rangkaian upaya pencegahan stunting di Kabupaten Berau.

Sri Juniarsih menegaskan, persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu program atau mengandalkan pemerintah. Pemenuhan gizi anak membutuhkan perhatian sejak lingkungan keluarga hingga dukungan pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.

“Yang kita hadapi bukan hanya bagaimana anak mendapatkan makanan, tetapi bagaimana memastikan kebutuhan gizinya benar-benar terpenuhi dan kesehatannya terus dipantau. Karena itu, pencegahan harus dimulai sejak anak masih kecil,” katanya.

Menurutnya, Posyandu memiliki posisi strategis dalam upaya tersebut. Keberadaan Posyandu memungkinkan masyarakat memperoleh berbagai layanan dasar, mulai dari pemantauan berat dan tinggi badan, pemeriksaan kondisi anak, edukasi mengenai gizi, hingga pemberian intervensi kesehatan secara berkala. Namun, efektivitas layanan tersebut sangat bergantung pada kehadiran masyarakat. Sri Juniarsih meminta orang tua tidak menjadikan Posyandu sebagai tempat yang hanya didatangi ketika anak mengalami gangguan kesehatan. Pemantauan secara berkala diperlukan agar perubahan kondisi anak dapat diketahui lebih cepat.

Giliran Aparatur Kampung Kecamatan Batu Putih dan Bidukbiduk Jalani Tes Urine

“Jangan menunggu anak sakit baru dibawa untuk diperiksa. Datang secara rutin ke Posyandu supaya pertumbuhan anak dapat dipantau dan apabila ada persoalan bisa segera diketahui,” tuturnya.

Bupati juga mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga kesehatan anak tidak semestinya hanya dibebankan kepada ibu. Peran ayah dinilai sama pentingnya, terutama dalam memastikan kebutuhan gizi, imunisasi, pemeriksaan kesehatan, serta lingkungan tumbuh anak mendapat perhatian bersama.

“Saya harapkan, keterlibatan keluarga menjadi hal penting karena keberhasilan program kesehatan pemerintah pada akhirnya ditentukan oleh keberlanjutan pengasuhan di rumah. Intervensi yang diberikan melalui Posyandu akan sulit memberikan hasil maksimal apabila tidak dilanjutkan dengan pola hidup dan pemenuhan gizi yang baik dalam lingkungan keluarga,” papar Bupati lagi.

Jadi, selain keluarga, Sri Juniarsih mendorong seluruh unsur yang terlibat dalam pelayanan kesehatan anak untuk memperkuat koordinasi. Dinas Kesehatan, Puskesmas, tenaga kesehatan, TP-PKK, kader Posyandu, pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat hingga orang tua diminta mengambil peran sesuai tanggung jawab masing-masing.

“Semua harus bergerak bersama. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga dan masyarakat. Kita ingin anak-anak Berau tumbuh dalam kondisi sehat sehingga nantinya mampu menjadi generasi yang cerdas dan produktif,” tegasnya.

Abrasi Pulau Derawan Belum Ditangani, Wajar Warga Keluhkan

Sri Juniarsih juga memberikan penghargaan kepada para kader Posyandu yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Menurutnya, pekerjaan kader tidak hanya berkaitan dengan kegiatan penimbangan atau pencatatan, tetapi juga menjadi penghubung antara keluarga dengan sistem pelayanan kesehatan.

Ia menilai keberadaan kader sangat membantu pemerintah dalam menjangkau masyarakat secara langsung, khususnya dalam memantau kondisi bayi dan balita serta mengingatkan orang tua terhadap jadwal pelayanan kesehatan.

“Peran kader sangat besar karena mereka berhadapan langsung dengan masyarakat. Mereka membantu memastikan pelayanan tetap berjalan dan keluarga mendapatkan informasi yang dibutuhkan mengenai kesehatan anak,” pungkasnya.

Melalui pencanangan pemberian Vitamin A dan obat cacing tersebut, Pemerintah Kabupaten Berau berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemantauan kesehatan balita semakin meningkat. Langkah preventif itu diharapkan tidak berhenti pada momentum pemberian vitamin dan obat cacing, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan keluarga untuk rutin memantau tumbuh kembang anak.

“Upaya ini sekaligus mempertegas bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Berau dimulai sejak usia dini. Anak yang memperoleh gizi cukup, terlindungi dari penyakit, serta mendapatkan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi yang sehat, tangguh dan mampu bersaing di masa mendatang,” imbuh Bupati, Sriu Juniarsih. (NH/BIN)