TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Keterbatasan jumlah tenaga kerja di Perumda Air Minum Batiwakkal Berau menjadi salah satu persoalan mendasar yang hingga kini masih membayangi upaya peningkatan pelayanan air bersih kepada masyarakat. Di tengah tuntutan perluasan jaringan dan peningkatan kualitas layanan, perusahaan daerah tersebut harus menjalankan operasional dengan jumlah pegawai yang jauh di bawah kebutuhan ideal.
Persoalan tersebut diungkapkan Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal Berau, Saipul Rahman, saat ditemui di Kantornya jalan Raja Alam, Tanjung Redeb baru baru ini.
Menurutnya, kekurangan sumber daya manusia (SDM) telah menjadi tantangan serius yang berdampak pada efektivitas kerja di berbagai bidang operasional perusahaan. Saipul menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja untuk mengelola sistem pelayanan air bersih di Kabupaten Berau sebenarnya jauh lebih besar dibanding jumlah pegawai yang tersedia saat ini.
“Sehingga, dengan luas wilayah pelayanan yang terus berkembang dan meningkatnya jumlah pelanggan, perusahaan membutuhkan dukungan personel yang memadai agar pelayanan dapat berjalan optimal kedepan,” ungklapnya.
Namun kondisi di lapangan menunjukkan kenyataan berbeda. Saat ini Perumda Batiwakkal hanya memiliki sekitar sepertiga dari jumlah tenaga kerja yang dinilai ideal untuk menopang seluruh aktivitas operasional perusahaan. Akibat keterbatasan tersebut, banyak pegawai yang harus menangani lebih dari satu pekerjaan dalam waktu bersamaan. Tidak sedikit karyawan yang menjalankan tugas di luar fungsi utamanya demi memastikan pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan tanpa gangguan.
“Kondisi yang ada saat ini membuat sebagian pegawai harus merangkap beberapa pekerjaan sekaligus. Ini dilakukan agar operasional perusahaan tetap berjalan dan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu,” ujarnya.
Lnajut beliau, situasi tersebut memang menunjukkan dedikasi para pegawai, namun dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan berbagai tantangan baru. Beban kerja yang terlalu tinggi dapat memengaruhi efektivitas pelaksanaan tugas, memperlambat penanganan pekerjaan tertentu, hingga meningkatkan risiko kelelahan di kalangan karyawan.
“Persoalan semakin kompleks karena perusahaan belum memiliki ruang anggaran yang cukup untuk melakukan penambahan tenaga kerja secara signifikan. Keterbatasan kemampuan keuangan perusahaan masih menjadi kendala utama dalam memenuhi kebutuhan SDM,” imbuhnya lagi.
Kondisi tersebut tambahnya tidak terlepas dari situasi pendapatan perusahaan yang harus disesuaikan dengan tarif pelayanan air bersih yang selama bertahun-tahun belum mengalami perubahan signifikan. Sementara itu, biaya operasional terus meningkat, mulai dari pemeliharaan jaringan, kebutuhan energi, hingga biaya distribusi ke wilayah pelayanan yang semakin luas. (Bin)
