TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Perusahaan umum daerah air minum (Perumdam) Batiwakkal, Kabupaten Berau menghadapi tantangan yang semakin berat dalam menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Selain masih menggunakan tarif air yang tidak mengalami penyesuaian selama lebih dari satu dekade, perusahaan kini juga harus menanggung lonjakan biaya operasional akibat perubahan kondisi Sungai Segah yang menjadi sumber air baku utama. Persoalan tersebut diungkapkan Direktur Perumdam Batiwakkal Berau, Saipul Rahman, saat ditemui di kantornya Jl Raja Alam, Tanjung Redeb, Senin lalu (13/7/2026).
“Sedimentasi Sungai segah tantangan baru yang dihadapi perusahaan kami saat ini. Sebab biaya operasional diperlukan jauh berbeda dibandingkan ketika tarif air terakhir kali ditetapkan pada 2011 silam,” ungkap beliau.
Menurut Saipul, struktur biaya operasional telah berubah secara drastis dalam kurun waktu sekitar 15 tahun terakhir. Salah satu komponen yang mengalami kenaikan paling signifikan adalah konsumsi listrik. Jika pada awal penetapan tarif biaya listrik perusahaan masih berada pada kisaran miliaran rupiah dalam satu tahun, kini pengeluaran untuk kebutuhan yang sama harus dibayar hingga lebih dari satu miliar rupiah setiap bulan.
Lonjakan tersebut lanjutnya, tidak diikuti dengan penyesuaian tarif air kepada pelanggan. Akibatnya, perusahaan harus menjalankan operasional dengan beban biaya yang terus meningkat, sementara sumber pendapatan utama masih mengacu pada struktur tarif lama.
“Kondisi yang kami hadapi hari ini tidak lagi sama seperti tahun 2011. Biaya produksi terus meningkat, tetapi tarif pelayanan masih menggunakan dasar yang sama seperti saat itu, hal tersebut tentu menjadi ancaman bagi PDAM,” imbuh Saipul.
Saat ini tambahnya, Perumdam tidak hanya menghadapi tekanan dari sisi keuangan, tetapi juga harus berjuang melawan perubahan kondisi lingkungan di Sungai Segah. Karena sedimentasi yang terus terjadi telah mengubah karakter sungai segah sehingga mempersulit proses pengambilan air baku.
“Endapan lumpur yang semakin tebal membuat kedalaman di sekitar instalasi pengambilan air PDAM terus berkurang. Material sedimen yang terbawa arus sungai dan aktivitas pelayaran perlahan menumpuk di sekitar intake sehingga menghambat proses penyedotan air,” kata beliau lagi.
Kondisi tersebut menurutnya, berbeda jauh dibandingkan saat fasilitas intake dibangun pada 2008. Saat itu permukaan air masih cukup dalam sehingga proses distribusi menuju instalasi pengolahan dapat dilakukan dengan kebutuhan energi yang relatif rendah.
Namun seiring meningkatnya sedimentasi, perusahaan terpaksa meningkatkan kapasitas sistem pemompaan agar pasokan air tetap dapat diambil dari sungai. Konsekuensinya, kebutuhan energi listrik ikut melonjak dan berdampak langsung terhadap biaya operasional perusahaan.
“Jadi saat ini, perusahaan kami tidak hanya menghadapi persoalan tarif dan biaya operasional, tetapi juga perubahan kondisi alam yang terus berkembang. Karena itu diperlukan langkah jangka panjang agar pelayanan air bersih tetap bisa dipertahankan di tengah tantangan yang semakin kompleks,” pungkasnya menjawab pertanyaan. (NH/BIN)
