TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Keterbatasan sarana pendidikan yang selama bertahun-tahun dialami pelajar SD Filial Birang di Kecamatan Gunung Tabur akhirnya mulai mendapat solusi. Setelah proses belajar mengajar berlangsung di rumah warga hingga tenda darurat akibat tidak adanya gedung sekolah, pembangunan fasilitas pendidikan permanen dipastikan segera terealisasi melalui dukungan pihak swasta.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, saat ditemui usai menghadiri kegiatan di Hotel SM Tower Jl Teuku Umar baru baru ini.
“Keberadaan SD Filial Birang sejak awal dibentuk untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang tinggal jauh dari sekolah induk agar anak-anak tetap memperoleh akses pendidikan dasar tanpa harus menempuh perjalanan yang cukup jauh setiap hari,” ungkapnya.
Namun, konsep pembelajaran yang awalnya hanya mengandalkan sistem kelas kunjung dinilai tidak lagi mampu mengakomodasi jumlah peserta didik yang terus bertambah. Ketiadaan bangunan sekolah membuat aktivitas belajar berlangsung dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Selama ini siswa harus memanfaatkan rumah warga sebagai ruang kelas sementara. Ketika pemilik rumah membutuhkan tempat tersebut, masyarakat bergotong royong mendirikan tenda agar proses belajar tidak terhenti.
“Kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena berdampak langsung terhadap kenyamanan serta efektivitas pembelajaran anak didik SD Filial. Seyogyanya fasilitas pendidikan yang layak merupakan hak setiap anak dan tidak seharusnya mereka terus belajar dalam situasi yang serba terbatas,” ujarnya.
Oleh karena itu tambahnya, berbagai alternatif sempat diupayakan pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya dengan mengkaji kemungkinan memindahkan seluruh siswa ke SD Negeri 01 Birang sebagai sekolah induk. Bahkan pemerintah telah menyiapkan rencana penyediaan transportasi gratis bagi peserta didik agar tetap dapat bersekolah tanpa terbebani biaya perjalanan.
“Akan tetapi, setelah dilakukan simulasi serta pembahasan bersama komite sekolah dan masyarakat, rencana tersebut dinilai tidak dapat diterapkan. Faktor jarak, efektivitas waktu belajar, hingga kondisi akses menjadi pertimbangan utama sehingga pembangunan sekolah di lokasi filial dipandang sebagai solusi paling realistis,” tambahnya.
Di tengah keterbatasan kemampuan anggaran pemerintah saat itu, masyarakat sempat menunjukkan inisiatif untuk membangun sekolah secara mandiri melalui swadaya. Semangat gotong royong tersebut, mencerminkan besarnya kepedulian warga terhadap masa depan pendidikan anak-anak di kampung mereka.
“Sangat kami syukuri, perkembangan positif kemudian terjadi Ketika PT TRH menyatakan komitmennya untuk membantu pembangunan gedung SD Filial Birang. Dukungan tersebut menjadi titik balik penyelesaian persoalan yang selama ini menjadi keluhan Masyarakat,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, gedung yang akan dibangun nantinya diharapkan mampu mengakhiri kondisi belajar yang berpindah-pindah serta memberikan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan layak bagi peserta didik maupun tenaga pendidik. Meski pembangunan fisik segera direalisasikan, Mardiatul menegaskan bahwa status sekolah tersebut masih tetap sebagai sekolah filial dan berada di bawah sekolah induknya. Perubahan status menjadi sekolah negeri definitif baru dapat dilakukan apabila seluruh persyaratan administrasi dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah telah dipenuhi.
Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, perusahaan, serta insan pers yang dinilai ikut mengawal persoalan tersebut hingga memperoleh solusi. Menurutnya, perhatian publik melalui pemberitaan telah mendorong terbangunnya kolaborasi yang akhirnya mampu mempercepat penyelesaian masalah pendidikan di wilayah tersebut.
“Persoalan ini menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Ketika masyarakat, dunia usaha, dan media ikut mengambil peran, solusi yang selama ini sulit diwujudkan akhirnya bisa terlaksana. Harapan kami, anak-anak di Filial Birang segera memiliki ruang belajar yang layak dan memperoleh kesempatan pendidikan yang sama seperti daerah lainnya,” pungkasnya. (NH/BIN)
