Ekonomi Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / Ancaman Karhutla Intip Sektor Pelesiran, Pemkab Berau Dorong Sinergi Pokdarwis dan Penyeimbangan Narasi Informasi

Ancaman Karhutla Intip Sektor Pelesiran, Pemkab Berau Dorong Sinergi Pokdarwis dan Penyeimbangan Narasi Informasi

TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Merebaknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu tutupan kabut asap di Kabupaten Berau kini mulai membayangi keterjagaan sektor pariwisata daerah. Menyikapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mendorong pelibatan aktif Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam langkah mitigasi, sembari menekankan pentingnya penyampaian informasi secara proporsional agar tidak merusak iklim kunjungan pelancong.

Langkah antisipasi di sektor pariwisata ini ditegaskan Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat memberikan keterangan di Aula Paraduta Kodim 0902/Bru, Tanjung Redeb, Selasa (1/9/2026). “Instruksi Dinas Pariwisata Berau untuk menyiagakan para pengelola objek wisata merupakan respons krusial demi menjamin keselamatan serta kenyamanan turis yang tengah berkunjung ke Bumi Batiwakkal,” kata Gamalis.

Gamalis menilai, peran Pokdarwis di setiap titik destinasi menjadi garda terdepan dalam meredam dampak buruk karhutla. Pengelola kawasan pelesiran tidak hanya dituntut aktif mengawasi potensi kemunculan titik api di wilayahnya, tetapi juga wajib memberikan panduan edukatif mengenai proteksi kesehatan dan pencegahan gangguan paparan asap bagi para pengunjung.

“Upaya pencegahan dan penanganan di kawasan wisata memang harus berjalan optimal. Kita tidak ingin para turis yang sedang berada di Berau terganggu kenyamanannya, apalagi sampai terpapar masalah kesehatan akibat dampak asap ini,” jelas Gamalis.

Tetapi demikian, di tengah penanganan situasi darurat karhutla, Gamalis menyoroti potensi dilema antara transparansi peringatan keselamatan dan kelangsungan ekonomi pariwisata. Ia mewanti-wanti agar fenomena bencana musim kemarau ini tidak diberitakan secara berlebihan atau sensasional yang berisiko memperburuk citra destinasi wisata Berau di mata publik luar daerah.

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Kabut Asap, Dinkes Berau Pastikan Faskes Masih Mampu Menangani Pasien

Menurutnya, penulisan berita yang terlalu bombastis berpotensi memicu persepsi keliru seolah-olah seluruh wilayah Kabupaten Berau lumpuh total oleh asap. Dampak psikologis tersebut dikhawatirkan dapat memicu gelombang pembatalan agenda wisata, yang pada akhirnya memukul pendapatan para pelaku usaha mikro, industri perhotelan, hingga penyedia jasa transportasi lokal.

“Kondisi di lapangan harus disikapi secara bijak. Jangan sampai ada narasi yang terkesan dibesar-besarkan sehingga membendung minat wisatawan untuk datang. Informasi yang disampaikan harus tetap objektif, berimbang, dan mengedepankan edukasi solusi,” tegasnya.

Gamalis menambahkan, jaminan keselamatan serta penyediaan sarana perlindungan diri di kawasan kunjungan utama merupakan fokus prioritas yang harus disediakan pengelola destinasi. Langkah ini dinilai ampuh untuk membentengi kesehatan wisatawan tanpa perlu memunculkan kepanikan massal yang merugikan daerah.

Dinas Pariwisata bersama Pokdarwis diharapkan terus menguatkan koordinasi dengan Tim Satgas Karhutla guna memantau perkembangan kondisi udara secara berkala di area destinasi unggulan. Sinergi lintas sektor ini diharapkan dapat menjaga stabilitas industri pariwisata daerah sekaligus memastikan standar keselamatan masyarakat dan wisatawan tetap berjalan maksimal.

“Prinsipnya, edukasi keselamatan dan perlindungan kesehatan bagi wisatawan adalah hal utama yang tidak boleh diabaikan. Dengan kesiapsiagaan pengelola di lapangan serta pemberitaan yang mendidik, kita optimistis sektor pariwisata Berau tetap aman dan kondusif untuk dikunjungi,” pungkas Wabup, Gamalis. (NH/Bintang)

Dua Raperda Disiapkan, Pemkab Berau Dorong Perlindungan Adat dan Penguatan Ekonomi Kampung