Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Kemarau Panjang Tidak Ganggu Produksi Tambak, Dinas Perikanan Pantau Kualitas Air

Kemarau Panjang Tidak Ganggu Produksi Tambak, Dinas Perikanan Pantau Kualitas Air

TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang di Kabupaten Berau belum memberikan tekanan berarti terhadap aktivitas budidaya tambak masyarakat. Dinas Perikanan Berau memastikan kondisi air masih berada pada tingkat yang dapat ditoleransi komoditas utama seperti udang windu dan bandeng, meski terjadi kenaikan kadar garam selama periode kering.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, saat berbincang di kantor beliau Jl Mangga II, Tanjung Redeb baru baru ini. “Dinas Perikanan terus melakukan pemantauan ke lokasi tambak dengan menguji sejumlah parameter penting yang menentukan kelayakan air untuk kegiatan budidaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi perairan tambak masih relatif stabil,” jelasnya.

Pemeriksaan tambah Majid, mencakup tingkat keasaman atau pH, kandungan oksigen terlarut (DO), serta salinitas atau kadar garam air.

“Dari hasil pemeriksaan, kondisi air masih mendukung untuk budidaya. Nilai pH berada di kisaran 6 sampai 7, kemudian oksigen terlarut sekitar 4 hingga 5, sementara kadar garam berada pada rentang 15 sampai 20,” katanya.

Kondisi yang menjadi perhatian berada pada salinitas. Selama kemarau, kadar garam mengalami kenaikan dibandingkan kondisi normal yang sebelumnya berada di sekitar 10. Namun, peningkatan tersebut belum melewati batas yang masih dapat diadaptasi oleh udang windu maupun bandeng.

Dorong Kemandirian WBP, Rutan Tanjung Redeb Budidayaan Selada Hidroponik

“Jadi, karena kedua komoditas tersebut memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kadar garam dalam rentang yang cukup luas, sehingga sampai saat ini masih aman terkendali. Selain itu, siklus pasang surut air yang masih berlangsung membantu menjaga pergantian kualitas air di kawasan tambak,” imbuhnya lagi.

Dengan kondisi tersebut, Dinas Perikanan belum melihat adanya penurunan produktivitas yang secara langsung disebabkan oleh kemarau. Produksi budidaya hingga saat ini masih berada pada jalur yang relatif sebanding dengan capaian tahun sebelumnya.

“Kalau melihat kondisi kualitas air dan produksi sampai sekarang, belum ada dampak yang signifikan. Pergerakan pasang surut juga masih membantu sehingga kondisi air tidak mengalami perubahan ekstrem,” tutur Majid.

Meski demikian, capaian produksi hingga triwulan ketiga belum sepenuhnya menyamai target tahunan. Dari total produksi sekitar 3.200 ton pada tahun sebelumnya, realisasi Januari hingga September 2026 telah mencapai kurang lebih 2.800 ton.

Artinya, masih terdapat selisih sekitar 400 hingga 500 ton yang harus dikejar pada tiga bulan terakhir tahun ini. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi sektor perikanan budidaya untuk mempertahankan produktivitas di tengah perubahan cuaca yang belum sepenuhnya dapat diprediksi.

Budidaya Lele Rutan Tanjung Redeb Panen 50 Kilogram, Dukung Ketahanan Pangan Warga Binaan

“Dalam kondisi ini, Dinas Perikanan pun tidak hanya mengandalkan hasil produksi sebagai indikator kondisi tambak. Pemantauan kualitas air tetap menjadi bagian penting untuk mengantisipasi apabila kemarau semakin panjang dan menyebabkan salinitas terus meningkat hingga berpotensi mengganggu pertumbuhan komoditas budidaya,” papar Majid.

Di sisi lain, Abdul Majid melihat peluang peningkatan produksi masih terbuka melalui komoditas perikanan lainnya, salah satunya rumput laut. Peningkatan hasil dari sektor tersebut diharapkan dapat membantu menopang capaian produksi perikanan daerah secara keseluruhan.

“Harapan kami produksi komoditas lain seperti rumput laut juga mengalami peningkatan. Jadi secara keseluruhan, sektor perikanan tetap bisa menunjukkan pertumbuhan,” pungkasnya. (NH/Bintang)