TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Ambisi memperluas akses air bersih bagi masyarakat Kabupaten Berau masih menghadapi tantangan besar. Di tengah tuntutan peningkatan layanan hingga menjangkau wilayah-wilayah pesisir dan kawasan yang belum terlayani secara maksimal, Perumda Air Minum Batiwakkal Berau harus berhadapan dengan keterbatasan kemampuan pendanaan yang dinilai semakin membebani perusahaan.
Persoalan tersebut disampaikan Direktur Perumda Batiwakkal, Saipul Rahman, saat ditemui di Kantornya jalan Raja Alam, Tanjung Redeb belum lama ini. “Faktor utama yang mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam melakukan ekspansi jaringan adalah belum adanya penyesuaian tarif air dalam kurun waktu yang sangat panjang yakni kurang lebih 15 tahun,” katanya.
Saipul menambahkan, bahwa tarif pelayanan air bersih yang berlaku Berau hingga saat ini masih mengacu pada ketentuan yang telah diterapkan sejak tahun 2011 silam. Sementara dalam periode yang sama, berbagai komponen biaya operasional terus mengalami peningkatan, mulai dari kebutuhan energi, pemeliharaan jaringan, bahan pendukung produksi, hingga biaya distribusi ke wilayah pelayanan yang semakin luas.
Kondisi tersebut, menurutnya, menciptakan ketimpangan antara pendapatan yang diterima perusahaan dengan kebutuhan pembiayaan operasional yang harus dipenuhi setiap tahun. Akibatnya, ruang gerak perusahaan untuk melakukan investasi pembangunan jaringan baru menjadi semakin terbatas.
“Biaya operasional terus bergerak naik dari tahun ke tahun, sementara tarif masih berada pada posisi yang sama. Kondisi seperti ini tentu berdampak pada kemampuan perusahaan dalam mengembangkan pelayanan,” tuturnya lagi.
Ia menilai persoalan tersebut menjadi dilema tersendiri bagi perusahaan daerah. Di satu sisi, masyarakat menginginkan perluasan akses air bersih hingga ke kawasan yang belum terjangkau. Namun di sisi lain, pembangunan jaringan distribusi membutuhkan investasi besar yang tidak dapat dipenuhi hanya melalui pendapatan operasional yang ada saat ini.
Menurut Saipul, tantangan itu semakin terasa karena karakteristik wilayah Berau yang luas dan memiliki banyak kawasan pesisir maupun permukiman yang letaknya berjauhan dari pusat produksi air bersih. Untuk menjangkau wilayah-wilayah tersebut, perusahaan harus mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan pelayanan di kawasan perkotaan.
Dirinya juga menjelaskan bahwa distribusi air ke daerah terpencil memerlukan pembangunan jaringan pipa yang panjang, dukungan fasilitas pendukung, serta biaya pemeliharaan yang tidak sedikit. Semua kebutuhan tersebut memerlukan dukungan pendanaan yang kuat agar pelayanan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Melayani wilayah yang jauh tentu membutuhkan biaya lebih besar. Semakin luas area pelayanan, semakin tinggi pula kebutuhan investasi dan biaya operasional yang harus ditanggung perusahaan,” katanya.
Saipul menambahkan, kondisi serupa sebenarnya juga dihadapi banyak perusahaan air minum di daerah lain. Bahkan sejumlah daerah menerapkan tarif yang lebih tinggi karena harus menyesuaikan dengan biaya produksi dan distribusi yang terus meningkat.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai tarif tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai upaya menaikkan beban masyarakat. Menurutnya, isu tersebut harus ditempatkan dalam konteks keberlanjutan pelayanan publik dan kemampuan perusahaan untuk terus memperluas akses air bersih.
Di tengah keterbatasan yang ada, Perumda Batiwakkal tetap dituntut untuk menambah jumlah pelanggan, memperluas jaringan pipa, menjaga kualitas pelayanan, serta memastikan distribusi air tetap berjalan dengan baik. Beban tersebut, menurutnya, akan sulit dipenuhi secara maksimal apabila tidak disertai dukungan pendanaan yang memadai.
Dirinya berharap seluruh pihak dapat melihat persoalan ini secara objektif dan menyeluruh. Sebab, keberhasilan memperluas layanan air bersih tidak hanya bergantung pada kinerja manajemen perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kebijakan, dukungan investasi, serta kemampuan pembiayaan jangka panjang.
“Ketika masyarakat menginginkan jaringan terus bertambah dan pelayanan semakin luas, tentu harus ada dukungan yang memungkinkan hal itu diwujudkan. Karena pengembangan infrastruktur membutuhkan biaya yang sangat besar,” tegasnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Perumda Batiwakkal memastikan komitmennya untuk terus meningkatkan cakupan pelayanan air bersih di Kabupaten Berau. Berbagai strategi pengembangan jaringan tetap disusun secara bertahap agar masyarakat yang selama ini belum terlayani dapat memperoleh akses air bersih yang layak.
Ke depan, Saipul berharap terdapat solusi yang mampu menjembatani kebutuhan perluasan layanan dengan kemampuan pendanaan perusahaan. Dengan demikian, target pemerataan akses air bersih di seluruh wilayah Berau dapat diwujudkan tanpa mengorbankan keberlanjutan operasional perusahaan daerah yang menjadi tulang punggung pelayanan air bersih bagi masyarakat. (Bin)
