TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Upaya modernisasi pelayanan di Perumda Air Minum Batiwakkal Berau masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam pengembangan sistem data digital yang terintegrasi. Keterbatasan anggaran menjadi faktor utama yang membuat perusahaan daerah tersebut belum mampu membangun sistem teknologi informasi (IT) secara mandiri.
Hal itu disampaikan Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal Berau, Saipul Rahman, saat ditemui di Kantor PDAM Jalan Raja Alam, Tanjung Redeb baru baru ini. Menurutnya, digitalisasi layanan merupakan kebutuhan penting untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pelanggan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat.
“Namun, pembangunan sistem tersebut membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Pasalnya, platform digital yang dimaksud tidak hanya berfungsi sebagai sarana administrasi, tetapi juga menjadi pusat penyimpanan seluruh data pelanggan, mulai dari identitas pelanggan, riwayat penggunaan air, hingga sistem pembayaran dan pelayanan pengaduan,” ungkap beliau.
Karena itu saat ini lanjutnya, Perumda Batiwakkal masih memanfaatkan sistem teknologi informasi melalui kerja sama dengan PDAM Kota Malang. Skema tersebut dipilih sebagai solusi agar pelayanan tetap berjalan meski perusahaan belum memiliki kemampuan membangun sistem sendiri.
Saipul juga menegaskan, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya tenaga ahli yang dimiliki perusahaan. Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan pembiayaan yang masih terbatas di tengah berbagai kebutuhan operasional lainnya.
“Kami memahami pentingnya sistem digital yang mandiri. Namun pembangunan dan pengelolaannya membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan perusahaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perbedaan kapasitas anggaran antar daerah juga berpengaruh terhadap kecepatan pengembangan teknologi pelayanan air bersih. Beberapa perusahaan air minum di daerah lain dapat lebih cepat melakukan transformasi digital karena didukung kemampuan pendanaan yang lebih kuat.
Di sisi lain, Perumda Batiwakkal masih harus membagi anggaran untuk berbagai kebutuhan prioritas lain, seperti pemeliharaan jaringan, peningkatan kapasitas produksi air, hingga perluasan layanan kepada masyarakat.
Meski demikian, Saipul memastikan pihaknya tetap berkomitmen mendorong digitalisasi pelayanan secara bertahap. Ia berharap ke depan perusahaan memiliki kemampuan untuk membangun sistem data sendiri sehingga pengelolaan layanan dapat berjalan lebih efektif, aman, dan terintegrasi.
“Digitalisasi tetap menjadi kebutuhan yang harus diwujudkan. Hanya saja prosesnya membutuhkan dukungan anggaran yang memadai agar sistem yang dibangun benar-benar mampu menunjang pelayanan kepada masyarakat secara optimal,” pungkasnya. (Bin)
