TANJUNG REDEB, Swaraberau.com – Pemadaman bergilir kembali terjadi di wilayah Kabupaten Berau. Akibat hal tersebut tidak hanya menghambat aktivitas harian masyarakat, tetapi juga mengancam pendapatan pelaku usaha. Sehingga beberapa waktu lalu kembali kantor PLN UP3 Tanjung Redeb di Jalan APT Pranoto dikepung ratusan warga.
Sebab, pemadaman berkepanjangan berisiko menurunkan omzet usaha, menghambat pelayanan pelanggan, hingga menambah biaya operasional, terutama bagi pedagang yang bergantung pada peralatan listrik dan penyimpanan bahan makanan.
Tanpa sumber listrik cadangan, pelaku usaha kecil harus menghadapi ketidakpastian operasional sekaligus potensi kerugian yang terus bertambah selama pasokan belum normal.
Menanggapi desakan warga, Manajer PLN UP3 Berau, Erwinton Naibaho, menjelaskan gangguan disebabkan kendala pembangkit pada sistem interkoneksi Mahakam dan Barito, serta robohnya menara transmisi di jalur Talisayan–Maloy.
“Kebutuhan listrik Berau saat beban puncak mencapai sekitar 50 megawatt (MW), sedangkan pasokan yang tersedia hanya 37 MW. Kekurangan 13 MW tersebut memaksa PLN menerapkan pemadaman bergilir,” jelasnya.
PLN kini memperbaiki jaringan yang rusak dan mengoptimalkan pembangkit lokal. Namun, Erwinton mengakui waktu pemulihan belum dapat dipastikan.
“Kami mengupayakan perbaikan secepatnya. Dalam skenario terburuk, prosesnya bisa mencapai tujuh hari atau lebih, tetapi tidak sampai dua pekan,” ujarnya.
Ketidakpastian tersebut menambah tekanan bagi masyarakat yang harus menanggung dampak pemadaman, terutama pelaku usaha dengan pemasukan harian.
Jika gangguan berlarut-larut, kerugian ekonomi berpotensi semakin besar. Karena itu, percepatan perbaikan dan keterbukaan informasi menjadi tuntutan penting agar masyarakat dapat memperkirakan dampak gangguan terhadap kegiatan ekonomi mereka. (NH/Bintang)
